London-From The East to The Shard

0
()
Seringkali kekaguman berbanding terbalik dengan keintiman. Makin intim, kagum lantas memudar. Tapi tidak untuk London.
Hati masih saja bersenandung riang saat jendela pesawat sesaat sebelum mendarat melintasi Tower Bridge yang berkemilauan dari angkasa. Padahal ini ketiga kalinya saya mendatangi si kota pemilik jembatan itu. London gemar menghiasi kenangan dengan berbagai warna nyaman, membuat saya menyambanginya lagi dan lagi.
Saya tidak menampik anggapan bahwa London adalah kota beranggaran mahal. Berita baiknya, kota ini memungkinkan kita memilih “mahal” yang sepadan dengan kebutuhan juga kepuasan. Malahan, semakin sering melancong, pengeluaran bisa makin hemat. Contohnya, kartu transportasi bernama Oyster memiliki paket mingguan atau bulanan yang ekonomis, tinggal pilih sesuai kebutuhan. Yang membuat asyik, kartu Oyster tidak hanya untuk kereta bawah tanah, tapi juga berlaku untuk kereta overground, bus, bahkan potongan harga untuk national rail dan riverboat. Wow, bisa jelajah London sepuas hati-sepegal kaki!
Dalam kunjungan kali ini, saya datang dengan sebuah kenikmatan; berjalan tanpa buku panduan. Tak punya banyak rencana, tetapi siap ke mana-mana.
Salah satu si pembuat rindu adalah London Underground; atau disebut ‘Tube’ oleh warga lokal. Berjalan-jalan di lorong bawah tanah yang menyambungkan berbagai kereta antarzona ini menjadi rekreasi tersendiri.
Saya berjalan penuh semangat melupakan penat di bandara Heathrow menuju London Underground, tak sabar mendengar rekaman suara peringatan: “Mind the gap, between the train and the platform”.
            “Permisi….” Eits, tahu-tahu bahu saya dicolek seorang ibu separuh baya berambut pirang cepak, “Kalau saya mau ke pusat kota, ambil kereta yang mana, ya?” tanyanya sambil menyodorkan peta Tube Station.
            “Oh, kalau dari bandara cuma ada satu kereta; Piccadilly. Anda bisa turun di Holborn, itu stasiun di Central Line,” saya pun menunjuk garis merah di peta, ”Tapi saran saya, sih, kalau mau langsung lihat banyak spot yang London banget, turun di Green Park, terus naik si abu Jubilee, exit di Westminster. Keluar-keluar langsung dihadang Big Ben, sangat dekat ke Thames River dan London Eye.”
Seiring dengan matanya yang berbinar, berpendar pula perasaan bangga dalam hati saya; bisa membantu sekaligus hapal peta tube station! Yah, lumayan, kan ya, walau cuma hapal tiga-empat stasiun.
            Begitu kami menginjakkan kaki di eskalator, ia berdiri di sebelah kiri. “Oh iya, kalau mau berdiri di eskalator, mari di sisi kanan.” Saya membantu memindahkan kopernya ke sisi kanan. ”Soalnya, sisi kiri buat yang lagi buru-buru.” Saking antusiasnya, saya sampai memberikan wejangan ini-itu bagai pemandu wisata.
Sesungguhnya ini info mahapenting. Teringat kala saya pertama kali datang, planga plongo di eskalator bagian kiri, ketubruk orang yang kecepatan berjalannya bagai cahaya.
Si ibu pelancong pun semakin semangat tanya ini-itu, saya pun semakin sumringah menjawab, sambil iri dalam hati; semoga saat umur saya separuh baya masih semangat jalan-jalan.
Saking asyiknya mengobrol, tak terasa kereta sudah sampai di stasiun Green Park. Kami berpisah.
            “Have a good day & enjoy London!” Tsah, lagak saya sudah macam yang punya kota saja.
Setelah beberapa kali ganti kereta dan menitipkan koper di hotel, saya keluar di Shoreditch High Street stasiun di wilayah East London, menuju jalan paling termasyur di timur London; Brick Lane.
Ternyata beda dekade, beda harumnya. Kalau baca sejarah area Brick Lane, dulu jalan ini terkenal sebagai kawasan kumuh dengan aksi kriminalitas tinggi. Sekarang? Untunglah yang pertama kali menyambut saya begitu keluar stasiun adalah seorang perempuan cantik berambut merah memberikan sebuah brosur.
            “Tunjukkan brosur ini di toko vintage, Anda akan mendapatkan potongan harga 25%.”
Wah, senang rasanya disambut diskon! Pandangan saya kini terampas gerombolan anak muda yang sedang asyik melukis di tembok. Sontak saya tersadar, Brick Lane adalah sebuah galeri seni outdoor yang bisa kita nikmati secara cuma-cuma.  Dari pagar, tembok, sampai gedung tinggi, terhiasi berbagai kreasi jalanan yang menarik.
Saking kagumnya, tahu-tahu saya hampir tersungkur di trotoar, tertubruk lelaki paruh baya berjas rapi.
            “Maaf!” Dia berhenti sesaat sambil menolong saya menyeimbangkan badan, lalu seketika melesat lagi ke ujung jalan.
Mendadak malu. Ternyata saya masih turis jelata! Tapi, toh, tidak berdosa juga, kan, menikmati sebuah kota sebagai turis, traveler, atau apa sajalah yang membuat diri nyaman. Selama tidak menghalangi jalan orang. Ha! Saya berjalan ke pinggir, lajur khusus pejalan lambat.
Di sebuah persimpangan, hidung saya mengendus aroma yang sungguh mengundang selera. Setelah celingak-celinguk, ternyata jalan ini dipenuhi berbagai restoran kari. Jadilah saya menikmati makan siang semangkuk lezat kari moilee, berisi potongan ikan empuk dan udang renyah yang tenggelam dalam santan hangat.
Selain dikelilingi pameran street art, toko vintage, dan restoran kari, Brick Lane juga dikelilingi toko buku antik dan kedai kopi cantik. Ah, sebagai penulis yang hobi makan dan mengopi, saya merasa dimanjakan!
brick lane
Menjelajahi Brick Lane di East London
Brick Lane
Selesai bersantap sedap. saya menuju toko vintage menggunakan panduan di brosur yang tadi saya dapatkan, letaknya sejajar dengan Brick Lane, di Hanbury Street. Begitu masuk toko bergaya Victorian warehouse ini, saya disambut tembok dipenuhi kemeja flannel 90-an. Ada pula ruangan khusus ‘pemujaan’ piringan hitam berbagai artis lawas.
            “Halo, mau secangkir kopi?” Saya kaget, tak menyangka di ruangan sebelah ada pojok khusus mengopi. Yang menyapa adalah seorang perempuan Asia berponi, yang kemudian saya ketahui berasal dari Jepang, bernama Shioni. Ia sudah menetap di London selama enam tahun.
            “Dulu saya pernah kedatangan pelanggan Indonesia, pas tahu saya seorang Japanese, dia tiba-tiba mengajak ngobrol dengan bahasa aneh. Ternyata dia kira saya orang Javanese!”
            Shioni pun tak sungkan menceritakan pengalamannya saat pertama kali singgah ke London, “Dulu saya nekad datang ke London, gak tau mau tinggal di mana dan kerja apa.”
            “Kamu bebas visa, ya, ke UK?” tanya saya penasaran.
            “Kalau untuk tinggal tidak lebih dari enam bulan, sih, kami—orang Jepang bebas visa. Memangnya kalau Indonesia bagaimana?”
            “Kami, sih, butuh visa. Visa liburan berlaku 6 bulan. Jadi butuh persiapan khusus buat ke UK.”
            “Tapi sepadan, kan?”
            “Sangat,” jawab saya mantap, sambil menyesap secangkir kopi dari Santa Alina, Brazil. Aromanya yang memberi sekelebat karamel, menyegarkan lidah yang sebelumnya terguyur kari.
            “Ini kue untuk menyambut kedatanganmu,” Shioni tiba-tiba menyodorkan sepotong carrot cake.
            “Wah, terima kasih! Tapi bukannya di UK kalau makan carrot cake mesti dengan secangkir teh?” Gurau saya—mengedipkan mata sambil menunjuk cangkir kopi yang telah kosong.
            “Kalau kamu bayar pakai kartu kredit, saya malah bisa ngasih teh satu pot penuh!” ujarnya terkekeh riang. “Ngomong-ngomong, sudah pernah menemukan Misteri 7 Hidung di Soho?”
            “Hah? Misteri bagaimana? Hidung horor?” Mendadak saya membayangkan hidung-hidung berterbangan.
            “Tahan khayalan liarmu! Ada tujuh hidung bertebaran acak di tembok-tembok kawasan Soho. Konon kalau kamu menemukan semuanya, semua keinginanmu terkabul!”
            “Ah, baru konon. Saya mau yang pasti-pasti saja!”
Mata Shioni terbelalak sambil tersenyum jail, “Saya tantang kamu! Kalau berhasil selfie dengan tujuh hidung itu, kamu saya traktir masuk gedung The Shard untuk lihat pemandangan London malam-malam!”
            Wah, tentu saja saya menyambut tantangannya! Tak lama kemudian, saya segera pamit berburu hidung.
***
Ah, tidak susah menemukan si tujuh hidung yang asyik nyempil di Central London ini. Tapi, psst, terima kasih untuk bocorannya, Google! Jangan bilang-bilang Shioni, ya!
Alhasil malam keesokannya, Shioni menepati janji. Ia mengajak saya menjelajahi gedung The Shard yang berbentuk seperti puncak nasi tumpeng. Gedung yang selesai dibangun pada 2012 ini bukan hanya tertinggi di London, tetapi juga di kawasan Eropa Barat. Ah, tak sabar ingin segera menikmati gelimang gemerlap ribuan lampu kota.
 The Shard, lancip di antara kotak-kotak
           “Terima kasih, Shioni, kamu baik sekali!” Pekik saya kegirangan begitu turun bus, bagai bocah ketemu mainan.
            “Dengan senang hati. Kebetulan saya dapat tiket tambahan gara-gara promo kejutan dari kartu kredit!”
Sayangnya, kami terlambat beberapa menit! Ternyata jadwal masuk terakhir adalah pukul 20.30. Yah, gagal sudah impian kami! Tapi Shioni mengisyaratkan saya untuk tetap ikut melebur kerumunan memasuki lift gedung.
Lift dengan cepat membawa kami ke atas, membuka pintu di jajaran restoran yang dikelilingi dinding kaca. Saya sempat lupa bernapas beberapa detik, terhipnotis kerlap-kerlip London yang memabukkan.
Pemandangan malam London dari restoran Hutong di The Shard
            “Saya harap kamu gak keberatan makan Chinese Food di UK!” Shioni membawa saya ke sebuah meja di ujung ruangan. Rupanya ia telah mempersiapkan kejutan yang menyenangkan, karena selain pemandangan menakjubkan, saya juga mendapatkan makan malam yang menggiurkan.
            “Ditraktir chinese food oleh orang Jepang di Inggris? Saya sangat merasa internasional!” Kelakar saya sambil bersulang.
Kami kemudian asyik bersantap sambil sesekali curi pandang beberapa selebritas Inggris yang sedang asyik bercengkerama atau sekadar lalu lalang. Wah, foto bareng, ah!
            Malam ini menambah lagi satu kenangan di London yang tak akan saya lupakan.
            Travel never felt so good and I can’t wait to get more surprises from you, London!

Recommended For You

About the Author: Paguci

Travel Information | Adventure - panduan perjalanan dan wisata di indonesia, itinerary, info tiket, info hotel, cerita perjalanan, tips traveling, inpirasi liburan dan berita wisata terkini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *