Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views :

Colenak Murdi Putra Colenak Bandung Yang Melegenda

/
117 Views
img

Sudah Sampai ke Mancanegara. Colenak, di cocol enak. Itu ide kreatif urang Sunda. Memang benar begitu. Mulanya, tape singkong atau peuyeum dibakar. Orang mencoba, peuyeum bakar itu di cocolkan ke enten alias gula merah yang ditumbuk halus diberi air. Terasa enak. Enak bener lho!

Pak Murdi waktu itu belum memiliki nama colenak. Para dalem yang kasengsrem dengan peuyeum digulaan memberi nama dengan colenak. “Sudahlah Murdi, namai saja peuyeum digulaan ini dengan colenak alias dicocol enak. Jadilah namanya colenak. Pak Murdi menghasilkan ide kreatif itu dan dikembangkan dalam usaha dagang. Mulanya sih hanya menggunakan gerobak dorong dan nangkring di tepi Jalan Cicadas.

Usaha kecil-kecilan itu dikembangkan apalagi pembelinya semakin banyak. Pak Murdi pun membuat kios. Tetapi pelanggannya kian merebak. Akhirnya, rumahnya di tepi Jalan Cicadas itu dijadikan semacam ruangan jajanan colenak. Namanya pun semakin terkenal. Colenak Murdi, demikian namanya yang menyebar di antara pelanggannya bukan hanya dikenal oleh orang Bandung saja melainkan juga luar Kota Bandung.

Sudah jadi wacana, colenak Murdi menjadi bahan obrolan. Mang Suha (80) pernah bercerita, ke Bandung tanpa membawa oleh-oleh Colenak Murdi, rasanya hambar dan seolah-olah tidak pergi ke Bandung. Istilahnya: Ka Mekah teu ka Madinah. Kurang afdol.

Daya tariknya memang luar biasa. Kuliner Bandung sederhana itu demikian laris. Dalam sehari, pak Murdi saat itu menghabiskan 100 kg peuyeum, 50 kg gula merah dan 60 butir kelapa pemadu enten. Wangi, lezat. Ah, Colenak Murdi juga dikenal orang Betawi.

Masa Kini
Waktu bergulir demikian cepat. Tanpa terasa usia Colenak Murdi Putra sudah 80 tahun. Pak Murdi memang sudah tiada, namun nama Colenak Murdi tetap abadi. Kini diteruskan oleh generasi berikutnya.

Colenak Murdi, Hj sofiah Hj. Sofiah, generasi kedua Pak Murdi masih tetap bekutat dalam usaha colenak. Colenak Murdi mampu bertahan sampai saat ini karena kualitas bumbunya yang tetap dijaga. Tidak ada perubahan rasa. Hanya sekarang oleh Hj. Sofiah diberi rasa lain. Tiga rasa. Rasa biasa, rasa duren, dan rasa nangka. Inovasi ini dilakukan karena permintaan pasar. Para pelanggan meminta ada cita rasa dan aroma yang lain.

“Kami menggunakan peuyeum bukan yang warnanya kuning melainkan yang putih saja sebagaimana asal ayah saya mulai berusaha. Kebetulan pula produsen peuyeum memang dekat dengan tempat tinggal dan usaha kami”, ujar Hj. Sofiah.

Ternyata upaya dan usaha colenak yang sudah beken ini tidak hanya di Kota Bandung saja. Produknya sudah menyinggahi kota-kota di Nusantara. Malah sudah sampai ke mancanagara. Orang-orang Singapura dan Belgia merupakan pelanggan yang matuh. Demikian halnya dengan orang-orang Malaysia sudah mengenal Colenak Murdi.

Malah ketika Sofiah menunaikan ibadah haji, sengaja membawa colenak dan ternyata dengan upaya ini colenaknya yang kian banyak dikenal, bukan saja oleh orang Indonesia sendiri melainkan juga orang-orang asing lainnya. Di Kota Bandung sendiri Colenak Murdi sudah memasuki toko-toko swalayan. Rata-rata setiap toko swalayan memesan produk Colenak Murdi antara 50 s.d. 70 bungkus setiap hari. Malah, colenak ini pernah dibawa ke Anjungan Jawa Barat di TMII Jakarta. Ia membawa bahan-bahan itu untuk waktu seminggu. Tetapi dalam dua hari sudah habis. Colenak Murdi Putra Bandung

Dari mencoba, kini berkembang jadi usaha yang mandiri. Bukan hanya dikenal di Kota Bandung saja. Colenak Murdi juga dikenal di Nusantara dan mancanagara. Bandung memang kota kenangan. Orang Bandung banyak memiliki ide kreatif.

  • Facebook
  • Twitter
  • Pinterest

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This div height required for enabling the sticky sidebar